Quantcast



Cerita Perjalanan Patah Hati ke Gunung Prau, Dieng, Wonosobo

No Comment Yet

Kadang kita sebagai manusia pasti pernah mengalami sebuah kejadian yang memilukan, yang membuat kita ingin pergi menjauh dari masalah tersebut untuk sekedar menenangkan diri atau mencari jalan keluar. Bukan untuk lari dari kenyataan, pergi kesuatu tempat yang belum pernah dikunjungi justru bisa membuka mata kita lebih lebar tentang dunia diluar sana yang beragam. Jangan pernah biarkan kesedihan menghalangi langkah mu untuk melangkah lebih jauh dan melihat keiindahan semesta yang telah diciptakan Tuhan untuk kita.

 

Setelah mengalami kejadian yang lumayan meremukan hati, gue memutuskan untuk pergi kesuatu tempat dimana gue bisa mendapat ketenangan. Setelah membuat beberapa list perjalanan seperti kepulauan seribu, karimun jawa, dan naik gunung prau. Akhirnya gue memutuskan untuk memilih Gunung Prau yang berada di Dieng, Wonosobo, sebagai tujuan perjalanan gue. Rencana gue pingin cobain solo trevelling, karena denger berita yang engga enak dateng dari kawah sileri yang ada di Dieng, gue jadi ragu untuk melakukan solo treveling. Sambil menunggu kabar dari Dieng membaik gue memutuskan untuk mengajak teman untuk menjadi partner gue dalam perjalanan ini. Jujur mengajak seseorang untuk pergi kesebuah tempat yang beberapa hari lalu terjadi sebuah bencana itu bukan hal yang mudah, gue harus meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik aja. Akhirnya gue mendapatkan partner untuk perjalanan ini, dan singkat cerita kami menyusun rencana perjalanan yang terbilang rencana seadanya.

kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ini pada tanggal 10 juli 2017, seminggu setelah letusan kawah sileri dengan harapan suasana sudah membaik. Rencana yang kami buat dalam perjalanan ini sengaja dibuat tidak terlalu matang alias setengah matang. Hal tersebut kami putuskan karena tidak ingin terlalu ambil pusing memikirkan rencana selama perjalanan, biarkan semua berjalan tanpa rencana agar perjalanan tak membosankan.

10 / 7 / 2017
Hari keberangkatan pun tiba, kami berkumpul di terminal Bekasi pukul 15.30 wib, sesuai dengan jam yang sudah tertera pada tiket bis yang kami beli dihari sebelumnya. Tujuan wonosobo sepertinya jarang dikunjungi orang pada hari biasa, jadi jadwal keberangkatan bis terbilang tak menentu. Karena hal tersebutlah kami memutuskan membeli tiket pada agen bis yang tidak memiliki nama.

Disini gue akan share pengalaman buruk mengenai agen bis yang asal-asalan, semoga kalian engga jadi korban seperti gue. Pada tiket bis yang gue beli bertuliskan jam keberangkatan pukul 16.00 wib, hingga pukul 17.00 bis pun tak kunjung datang. Sudah satu jam bis pun tak datang, dan gue bertanya kepada penjual tiket mengenai keberadaan bis tersebut dan penjual pun mengatakan bis sedang terjebak macet dalam perjalanan menuju terminal. Setelah beberapa menit gue disuruh mengikuti seseorang untuk menuju bis yang akan mengantarkan gue ke wonosobo. Sesampainya di bis gue sempat bingung, karena bis yang gue naikin adalah bis pariwisata bukan bis AKAP. Karena interior bis yang lebih bagus ketimbang bis AKAP gue jadi sedikit lumayan terhibur dan dalam benak gue, “Kapan lagi naik bis kayak gini cuma 150rb”.

Oiyah tiket yang gue beli seharga 150Rb dari agen bis asal-asalan itu. Kegembiraan gue pun hilang setelah disuruh menunggu hampir 3 jam di dalam bis, prediksi gue bis pariwisata yang gue naikin ngetem menunggu penumpang lain agar mendapat untung lebih. Akhirnya bis pun jalan pada pukul 19.20 WIB. Gak mau ambil pusing gue memutuskan untuk tidur selama perjalanan.

Singkat cerita, jam 21.25 bis kami pun berhenti didaerah cikampek. Kami memutuskan untuk turun dan pergi ke toilet, setelah kembali gue kembali bingung kenapa bis yang gue naikin merupakan mobil jojgja (AB). Karena bingung gue putuskan untuk bertanya kepada penumpang lain, dan ternyata tujuan dari penumpang yang ada di bis itu beragam ada yang ke wonosobo, ada yang kejogja, dan daerah lain yang gue lupa namanya. Setelah bertanya kepada penumpang gue putuskan untuk bertanya kepada kernet bis tersebut. Dan masalah pun dataang, ternyata memang itu bis tujuan jogja dan tidak lewat wonosobo. Setelah ngobrol dengan kernet, dia menyarankan untuk menyambung dengan bis lainnya yang menuju wonosobo dari kebumen.

kurang lebih begini interiornya

11 / 7 / 2017
Pukul 06.00 kami tiba di kebumen, kami turunkan dipertigaan yang mengarah ke wonosobo (gue lupa nama daerahnya). Untungnya ada seorang penumpang yang mengerti daera situ dan mengarahkan kami untuk melanjutkan perjalanan dengan bis 3/4. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya bis yang dimaksud pun tiba, dan perjalanan kami lanjutkan ke wonosobo. (Ongkos bis 3/4 35 rb). Selanjutnya kami meminta pada kernet bis tersebut untuk mencarikan bis yang kearah dieng ketika kami sudah sampai di wonosobo. setelah tiba di wonosobo pukul 09.30, kami langsung melanjutkan dengan bis 3/4 ke arah dieng. (Ongkos bis wonosobo – dieng 20rb). Bilang pada kernet turun di basecamp petak banteng, maka kernet akan menurunkan kita didepan basecamp petak banteng.

bis 3/4 wonosobo – dieng

 

Setibanya di basecamp pukul 10.30, kami langsung mencari rumah makan untuk mengisi tenaga sebelum pendakian. Jangan khawatir kesulitan mencari rumah makan, karena diarea basecamp petak banteng banyak sekali rumah makan. Menu makan siang kami adalah sayur jamur dan sayur tahu, biarpun sederhana soal rasa luar biasa. (nasi, sayur jamur, sayur tahu, dan teh hangat seharga 10rb). kami juga membawa bekal menu yang sama untuk kami santap ketika tiba dipuncak nanti. Setelah perut terisi penuh kami, memutuskan untuk melakukan registerasi pada basecampe dengan membayar biaya masuk sebesar 10rb per orang. Bagi kalian yang kehabisan batrai handphone selama perjalanan jangan khawatir karena dibasecamp terdapat beberapa stopkontak untuk para pendaki yang ingin mencharge peralatan elektroniknya. (Biaya charge 2rb).

Pukul 11.00, kami mulai pendakian. Selama pendakian trek pendakian via petak banteng terbilang terus menanjak jarang sekali ditemukan jalan landai pada pendakian melalui petak banteng. Perjalanan menuju pos 1 kita akan melalui perkebunan milik warga, jalan yang ditempuh sudah berupa bebatuan yang disusun rapih seperti konblok, jarak tempuh ke pos 1 kurang lebih 30 menit dari basecamp tergantung kemampuan pendaki. Lalu dari pos 1 menuju pos 2 jalan yang ditempuh berupa tangga tanah yang telah dibentuk oleh pengelola, dalam perjalanan menuju pos 2 terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman. jarak tempuh dari pos 1 menuju pos 2 kurang lebih 40 menit sampai dengan 1 jam, tergantung dengan kemampuan pendaki.

Dari pos 2 menuju pos 3 jalanan sudah berubah total menjadi jalan tanah ditengah hutan. Pendakian mulai terasa setelah melalui pos 2, jalanan yang terus menanjak membuat kemampuan fisik kami diuji disni. jarak tempuh dari pos 2 menuju pos 3 kurang lebih 1 jam perjalanan tergantung kemampuan pendaki. selanjutnya dari pos 3 ke camp ground merupakan tanjakan terberat dalam jalur petak banteng. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, sisa stamina yang kami miliki membuat pendakian menjadi sangat berat. Jalan yang menanjak cukup curam menandakan bahwa camping ground sudah dekat. Menurut informasi dari pihak basecamp perjalanan dari basecamp menuju camping ground biasanya ditempuh 3-4 jam perjalanan. Sementara kami menempuh perjalanan selama 3 jam setengah dari basecamp menuju camping ground.

12 / 7 / 2017
Setelah berjuang melewati malam yang dingin banget, kami terbangun pukul 04.00 wib. Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah menyalakan kompor dan merebus mie instan untuk sarapan super pagi kami. Percaya gak percaya perut kenyang membuat tubuh sedikit hangat untuk melawan udara super dingin pagi itu. Sambil menunggu matahari beranjak keluar dari tempatnya, kami memutuskan untuk berada didalam tenda karena udara pagi itu luar biasa dinginnya. Setelah matahari muncul waktunya foto-foto pun tiba, menikmati indahnya matahari yang tersenyum cerah membuat suasana kembali hangat. Tak lama-lama kami menikmati matahari pagi itu, setelah puas kami pun segera merapihkan tenda dan bergegas turun pada pukul 06.30. Bukan tak ingin berlama-lama menikmati matahari pagi, kami harus segera turun untuk mengejar kendaraan yang akan membawa kami ke yogyakarta. Perjalanan turun kami lebih cepat 1 jam dari perjalanaan saat kami mendaki naik.

Sekian catatan perjalanan yang bisa saya sampaikan kali ini. Cerita saya akhiri disni karena di jogja kami hanya tinggal 1 malam untuk melepas rindu dengan suasana malam khas malioboro .

PELAJARAN TERPENTING : JANGAN BELI TIKET BIS SEMBARANGAN, BELILAH DI AGEN BIS TERPERCAYA

 

Fotografer dan Penulis : @andreasmukti

Editor : berjalanjalan.com

berjalanjalan
Up Next

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: